Sabtu, 21 Februari 2009

Ranieri Khawatirkan Efek Hiddink

Claudio Ranieri masih sempat menyaksikan laga Aston Villa-Chelsea untuk membuat analisa


Claudio Ranieri (foto) mengatakan dirinya lebih suka menghadapi Chelsea di bawah asuhan Luiz Felipe Scolari.
"Ketika seorang pelatih pergi, selalu ada keinginan di dalam diri pemain untuk bertarung lebih keras lagi untuk membuktikan kepada pelatih baru bahwa kritik publik adalah salah," ujar Ranieri.

"Saat ini, Chelsea memiliki tempo permainan lain lagi. Kami tahu kami akan menghadapi sebuah tank, salah satu kandidat finalis Liga Champions musim ini. Namun kami datang ke Stamford Bridge untuk


Ranieri tidak bermaksud mengkritik Scolari. Ia mengatakan jika dirinya melatih Chelsea, ia akan lebih
saya untuk memainkan tiga striker," masih menurut Ranieri.

Sebelum Juve menghadapi Palermo, Ranieri menyempatkan diri menyaksikan laga Chelsea melawan Aston Villa. Ia melihat Chelsea di bawah Hiddink lebih banyak memainkan umpan-umpan silang ke kotak penalti, dan selama mungkin menguasai bola.
Ranieri yakin kemenangan atas Palermo di Renzo Barbera telah cukup sebagai bekal menghadapi Chelsea di Stamford Bridge.

Anelka Berikan Hiddink Debut Kemenangan


Gol tunggal Nicolas Anelka mengakhiri rekor 13 partai tak terkalahkan Aston Villa dan memberikan manajer baru Chelsea, Guus Hiddink, debut yang manis.


Satu gol dari Nicolas Anelka cukup memberikan Chelsea poin yang dibutuhkan untuk merebut posisi ketiga klasemen Liga Primer Inggris dari tangan Aston Villa.
Penampilan Chelsea, terutama Frank Lampard dan Didier Drogba, mengingatkan pada era Jose Mourinho beberapa musim lalu. Apalagi, Blues memetik kemenangan dengan angka tipis.

Partai terakhir Mourinho sebagai pelatih Chelsea adalah saat kalah di kandang Villa. Hebatnya, manajer baru Guus Hiddink mampu memberikan kemenangan pertama Chelsea di Villa Park dalam satu dasawarsa terakhir.

Ada komponen yang hilang dari serangan tim tuan rumah saat pertandingan dimulai. Peluang pertama didapat ketika Gabriel Agbonlahor mengancam gawang Petr Cech. Namun, setelah 19 menit berjalan, Chelsea mampu unggul lebih dahulu.
Aksi Lampard membuat perhatian bek Villa terpaku. Bola dengan cepat diumpan kepada Nicolas Anelka, yang menyongsong bola dengan penyelesaian sempurna ke gawang Brad Friedel.

Usai memimpin, Chelsea menguasai permainan dengan meraih setiap jengkal lapangan yang membuat permainan Villa tak berkembang. Didier Drogba, Salomon Kalou, dan Anelka menghadirkan ancaman bagi pertahanan Villa. Peluang Kalou, setelah melakukan umpan satu-dua dengan Drogba, masih dapat diblok Carlos Cuellar. Tendangan pojok yang dihasilkan berbuah peluang sundulan John Terry, tapi Friedel mampu mementahkannya.
Tuan rumah membalas melalui set-piece. Tendangan bebas Ashley Young hanya melayang tipis sesaat sebelum jeda, dan lima menit sebelum jeda umpannya nyaris disambar Curtis Davies.
Pertandingan kian menarik pada babak kedua. Terry hampir menciptakan gol kedua timnya, tapi sundulannya dapat dihalau Stilian Petrov persis di garis gawang.

Kesalahan Alex di dekat kotak penalti Chelsea nyaris dapat dimanfaatkan Agbonlahor. Sayang, tendangan striker muda Inggris ini masih lebih mengarah ke Cech.

Cech kembali bekerja keras ketika harus menghalau tendangan keras Gareth Barry, menyusul sundulan Terry dari lini pertahanannya.

John Carew menambah daya gempur tuan rumah, seiring kesulitan Chelsea untuk tetap tampil dengan penguasaan bola seperti babak pertama. Umpan-umpan tidak berjalan mulus, bola gagal dikuasai berlama-lama. Namun, penguasaan lapangan Villa tidak jua berbuah serangan yang mematikan.

Kedudukan bertahan 1-0 di Villa Park dan Chelsea seperti kembali seperti sedia kala.

Susunan pemain:
Villa Friedel; Cuellar, Davies / Carew (70'), Knight, L.Young; Barry, Petrov, Milner, A.Young; Heskey, Agbonlahor.
Chelsea Cech; Bosingwa, Terry, Alex, Ferreira; Mikel, Ballack, Lampard; Kalou / Deco (54'), Anelka, Drogba / Belletti (90').